RSS

MAKALAH TENTANG PERAN TELEVISI DALAM PENDIDIKAN

18 Des

BAB I

PENDAHULUAN

Media televisi pada hakikatnya merupakan suatu sistem komunikasi yang menggunakan suatu rangkaian gambar elektonik yang dipancarkan secara cepat, berurutan, dan diiringgi dengan media unsur audio. Walaupun demikian, pengertian ini harus dibedakan dengan media film yang merupakan rangkaian gambar yang diproyeksikan dengan kecepatan 24 bingkai perdetik sehingga gambar tampak hidup. Setiap gambar dari rangkaian tersebut dengan mudah dapat kita kenalidengan mata telanjang.

Kata televisi terdiri dari kata tele yang berarti”jarak” dalam bahasa yunani dan kata visi yang berarti”citra” atau “gambar”. Kata televisi berarti suatu sistem penyajian gambar berikut suaranyadari suatu tempat yang berjarak jauh.

 

 

BAB II

TELEVISI UNTUK PENDIDIKAN

A.Pengertian Televisi

Kata televisi berasal dari  bahasa inggris yaitu television yang berarti menyiarkan gambar dengan gelombang radio.  Televisi adalah pesawat sistem penyiaran gambar objek yang bergerak  disertai dengan bunyi suara melalui kabel atau melalui angkasa dengan menggunakan alat  untuk  mengubah cahaya bentuk gambar dan bunyi suara menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dan bunyi yang dapat didengar, digunakan untuk penyiaran petunjukan, berita dan sejenisnya. Televisi dapat dapat diartikan juga tele=jauh, vision=penglihatan. Jadi televisi berarti suatu alat atau benda yang dapat digunakan untuk menangkap objek gambar dan suara yang datang dari jarak jauh dan dapat dilihat dengan indra mata dan didengar dengan indra telingga.[1]

  1. Sejarah Singkat Televisi

Pada tahun 1862 seorang Itali bernama Abbe Casseli berhasil menemukan sistem pengiriman gambar dengan listrik melalui kawat. Namun, dasar-dasar scanning televisi mekanis (gerak bekas elektron dari kiri dan kanan dan dari atas kebawah pada saat pengambilan gambar didalam tabung kamera serta dalam penyusunan kembali gambar  dilayar televisi) untuk pengiriman gambar objek bergerak baru ditemukan oleh Paul Nipkow seorang Rusia yang hidup dijerman  pada tahun 1884. Tiga belas tahun kemudian, catbode ray tube, yaitu tabung sinar katode mengalami penyempurnaan oleh Ferdinand Braun dari Universitas Strasburg sehingga tabung katode disebut pula sebagai tabung Braun.

Pada tahun 1907 Profesor Boris Rosing dari Institut Teknologi Petersburg di Rusia berhasil menemukan dasar-dasar scanning elektronik tabung sinar katode untuk mengubah getaran elektronik menjadi visual. Selanjutnya, selama hampir lebih dari seperempat abad berbagai pakar berusaha menyempurnakan segi mekanis televisi.[2]

Antara tahun 1923-1929, Fohn Logis Baird, yang kemudian dikenal sebagai bapak televisi Inggris, belum berhasil meningkatkan mutu siaran televisi. Baru pada tujuh tahun selanjutnya baik di Inggris maupun di Jerman dilakukan percobaan-percobaan siaran televisi dengan hasil 60-80 garis setiap bingkai gambar.

Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1935 di Perancis mulai diperkenalkan  siaran televisi dengan hasil 180 garis setiap bingaki. Di Inggris, BBC memulai siaran televisi dengan menggunakan sistem Marconi-EMI dengan 405 garis visual. Sementara itu, di Moscow dan Leningrad telah dikembangkan siara televisi dengan 240 garis dan343 garis. Dalam pembukaan pameran Internasional di New York, 30 April 1939, Amerika Serikat memulai siaran televisi dengan 441 garis.RCA mendemonstrasiakan pesawat televisi dengan lima inch tabung gambar. Hal ini terlaksana berkat bantuan Zworykin dan paten dari Farnworth.

Selama berlanggsungnya perang dunia II, semua usaha memperkanalkan televisi berhenti. Namun , kegiatan penelitian di bidang lain, yaitu radar guna kepentingan militer ditingkatkan Kondisi ini justru membantu mempercepat penyempurnaan televisi

Setelah  perang selesai, mulailah penyebaran televisi secara besar-besaran ke seluruh dunia. Meskipun demikian, hingga tahun 1946 baru empat negara yang mempunyai siaran televisi . Jumlah ini meningkat menjadi 18 negara pada tahun 1953. Jadi, dapat dikatakan bahwa dari akhir tahun 1940-1950 merupakan masa keemasan televisi. Ketika itu segala macam program disiarkan secara langsung dari studio.[3]

  1. Perkembangan Televisi

Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia “televisi’ secara tidak formal disebut dengan TV, tivi, teve, atau tipi.

Dalam penemuan televisi, terdapat banyak pihak, penemu maupun inovator yang terlibat, baik perorangan maupun badan usaha. Televisi adalah karya massal yang dikembangkan dari tahun ke tahun. Awal dari televisi tentu tidak bisa dipisahkan dari penemuan dasar, hukum gelombang elektromagnetik yang ditemukan oleh Joseph Henry dan Michael Faraday (1831) yang merupakan awal dari era komunikasi elektronik.

Tahun 1876-George Carey menciptakan selenium camera yang digambarkan dapat membuat seseorang melihat gelombang listrik. Eugen Goldstein menyebutkan tembakan gelombang sinar dalam tabung hampaitu dinamakan sebagai sinar katoda.

Tahun 1884-Paul Nipkov, ilmuan Jerman, berhasil mengirim gambar elektonik menggunakan kepingan logam yang disebut teleskopelektik dengan resolusi 18 garis.

Tahun 1888-Freidrich Reinitzeer, ahli botawi austria, menemukan cairan kristal (liquid crystals), yang kelak menjadi bahan baku pembuatan LCD. Namun LCD baru dikembangkan sebagai layar 60 tahun kemudian.[4]

Dan sekitar tahun 2000-masing –masing jenis telnologi layar semakin disempurnakan. Baik LCD, plasma maupun CTR terus mengeluarkan produk terakhir yang lebih sempurna dari sebelumnya. Memang benar banyak sebagian orang mengatakan kalau gambar yang dihasilkan TV LCD dan plasma memiliki resolusi yang lebih tinggi. Tetapi kekurangannya adalah masa atau umur TV tersebut tidak dapat berumur panjang jika kita memakainya terus-menerus jika kalau dibandingkan dengan TV CRT atau yang dikenal sebagai tivi biasa yang digunakan orang pada umumnya.[5]

  1. Televisi sebagai alat pendidikan

Televisi merupakan alat yang digunakan sebagai sarana komunikasi  searah yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan-pesan kehidupan. Televisi dianggap sebagai media pembelajaran yang efektif dan menarik, karena alat ini dapat merekam dan menangkap objek gambar hidup yang sebenarnya, dari tempat yang jauh dapat dilihat dan dinikmati oleh pemirsa seolah-olah kejadian itu berada didepan matanya. Dengan menyadari bahwa televisi menjadi sebuah alat yang sangat potensi untuk memberikan informasi dan sekaligus sebagai alat pembelajaran kepada setiap yang menikmati, maka program penyiaran dan pertunjukannya haruslah dikemas dengan berpedoman etika dan nilai-nilai budaya yang positif. [6]

Perkembangan jaringan penyiaran lewat televisi , sejalan dengan perkembangan peradaban zaman yang begitu pesat, maka informasi dari tempat yang jauh, bahkan dari manca negara sekalipun dalam waktu sekejap dapat dilihat dan diikuti perkembangannya. Dengan jaringan komunikasi dan informasiyang mudah dan efektif untuk penyampaian pesan, maka dunia pendidikan seharusnya juga ikut mengambil peran dalam penanganan media televisi ini sebagai pusat sumber belajar. Artinya, para perencana dan praktisi pendidikan tidak hanya sebagai penonton dari luar arena program pertelevisian indonesia. Tapi ikut ambil bagian penayangan program kependidikan yang dikemas untuk  kepentingan pembinaan ahlak, moral dan nilai-nilai budaya indonesia.

  1. Rancangan progrm TV

Dengan memperhatikan media TV sangat bermanfaat dan diperlukan sekali dalam proses pembelajaran, namun pada sisi lain sarana tersebut belum mampu dijangkau untuk dilaksanakan didalam sistem pendidikan, maka untuk mewujudkan kebijakan seperti , guru berupaya untuk merancang program pembelajaran yang membutuhkan media TV, dengan cara:

  1. Memberikan arahan yang jelas kepada peserta didik untuk dapat melihat program TV yang ada nilai-nilai pendidikan yang bersifat positif.
  2. Membimbing peserta didik untuk memilih program acara yang sesuai dengan tingkat umur dan kejiwaanya.
  3. Memberikan pemahaman tentang program tayangan TV yang ada relevansinya dengan program pendidikan yang diajarkan disekolahan.
  4. Memberi tugas kepada peserta didik untuk mencatat atau mengidentifikasi program-program acara TV yang bernilai edukasi(pendidikan).
  5. Memberi tugas untuk menganti atau menonton program tayangan yang sesuai dengan nilai-nilai yang dikembangkan disekolah, misalnya berita, dialog interaktif, profil tokoh, dan sejenisnya, kemudian berakhir dengan membuat laporan pengamatan.
  6. Membekali sikap mental peserta didik untuk tidak meniru setiap perilaku tokoh atau bintang film atau penyanyi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya ketimuran.[7]
  7. Karakteristik Media Televisi

Setiap media komunikasi pasti memiliki karakteristik tertentu. Tidak ada satu media pun yang dapat di pergunakan untuk memenuhi segala macam tujuan komunikasi.

Beberapa karakteristik media televisi adalah sebagai berikut.

  1. Memiliki jangkauan yang luas dan segera dapat menyentuh rangsang penglihatan dan pendengaran manusia.
  2. Dapat menghadirkan objek yang amat kecil atau besar, berbahaya, atau yang langka.
  3. Menyajikan pengalaman langsung kepada penonton.
  4. Dapat dikatakan “meniadakan” perbedaan jarak dan waktu.
  5. Mampu menyajikan unsur warna, gerakan, bunyi, dan proses dengan baik.
  6. Dapat mengkoordinasi pemanfaatan berbagai media lain, seperti film, foto, dan gambar dengan baik.
  7. Dapat menyimpan berbagai data, informasi, dan serentak menyebarluaskannya dengan cepat ke berbagai tempat yang berjauhan.
  8. Mudah ditonton tanpa perlu menggelapkan ruangan
  9. Membangkitkan perasaan intim atau media personal.[8]
  1. Perbandingan dengan media masa lain

Dengan kehadiran media masa televisi, tidak berarti bahwa media masa lain, seperti, media masa cetak dan media masa radio, terdesak. Justru dengan kehadiran media masa televisi, akan menjadi “tri tunggal” media masa yang tidak ada tandingannya, sebab ketiganya akan saling mengisi kekurangan masaing-masaing, sehingga khalayak dapat semakin lengkap informasi yang diterima.

Kelebihan media masa televisi , antara lain dengan sifatnya yang audio visual, yang mampu menyebarluaskan informasasinya secara langsung . Kalau peristiwa atau kejadian disiarkan secara langsung, sebagai media masa akan sanggat menguntungkan, karena faktor kecepatan dan ketetapan dalam menyampaikan informasi atau pesan sangat diutamakan. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa media masa televisi, tidak mempunyai kelemahan. Salah satu kelemahan yang paling mencolok adalah informasi atau pesan yang  disampaikan hanya ditonton sekilas saja dan tidak bisa diulang, kecuali kalau menggunakan alat perekam.[9]

  1. Kelebihan TV sebagai media masa pendidikan

Setiap media alat, pasti mempunyai karakteristik tertentu. TV merupakan alat yang digunakan dalam pendidikan, mempunyai daya serap tinggi, sehingga program acara yang ditayangkan jika untuk kepentingan pendidikan haruslah selektif . Jika tidak mendapat pengawasan ketat, maka peserta didik akan terbawa  arus pada nilai-nilai budaya yang menyesatkan, sehingga tujuan pendidikan yang mengacu pada pembentukan budi pekerti luhur tidak akan tercapai.

Ada beberapa keuntungan yang diperoleh dalam penggunaan TV sebagai media pendidikan antara lain:

  1. Guru dan siswa (peserta didik) dapat secara langgsung melihat gambar  objek yang nyata secara audio-visual, seolah-olah dapat berkomunikasi langsung dengan objek yang dilihatnya.
  2. Guru dan siswa secara langsung dapat melihat latar kehidupan tokoh-tokoh atau orang-orang yang terlibat dalam tayangan program yang sudah ditujukan oleh perancang program TV.
  3. Guru dan siswa dapat menentukan dan memilih program acara yang sesuai dengan bahan pengajaran.
  4. Guru dan siswa dapat belajar secara efektif dari program acara yang dikemas oleh pengelola TV.
  5. Secara umum program TV dapat disebarkan dalam kapasitas pemirsa yang lebih luas.

Dari segi keefektifan program TV, yang dapat dikemas untuk digunakn sebagai media pembelajarn, demi percepatan kemajuan pendidikan nasional, maka program tayang yang dirancang haruslah lebih banyak berorientasi pada proses pembelajaran pemirsanya. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan oleh menteri pendidikan Nasional, untuk selalu proaktiv dalam menentukan rancangan program TV-TV seluruh indonesia, baik TV pemerintah maupun TV swasta.[10]

  1. Program Sistem Komunikasi Satelit Domestik

Kelebihan dalam teknologi pendidikan meliputi kemampuan yang jauh lebih luasdari pada hanya produksi media instuksional termasuk radi dan televisi siaran. Keahlian itu meliputi kemampuan dalam merancang, mengembangkan, memilih, memanfaatkan, meneliti dan menilai program dan produk instruksional, serta menngelola keseluruhan proses dan sistem instruksional.Pendidikan keahlian ini secara konseptual diarahkan untuk menghasilkan tenaga pengemban instruksional dalam barbagai macam program pendidikan dan latihan. Namun secara operasional masih banyak hambatan dalam pelaksanaan pendidikan. Hambatan itu antara lain terbatasnya fasilitas, dana dan sumber  daya manusia, sehingga pendidikan dalam produksi media televisi pendidikan, misalnya kurang sekali memberikan kesempatan praktek apalagi dengan menggunakan peralatan yang canggih.

Melihat kenyataan bahwa, ketidakberdayaan departemen pendidikan nasional dalam mencukupi fasilitas, dana dan sumber daya manusia yang ada, maka tidak salah jika melakukan proaktif kepada pengelola televisi yang sudah lengkap fasilitas, dana dan sumber daya manusia yang profesional. Paling tidak tiap pesan-pesan pembelajaran yang dapat memberi dorongan ataurangsangan kepada peserta didik tentang materi yang bernilai positif untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan pegalangan kerjasama yang kondusif, kepada pengelola televisi, juga rencana program kurikulum dapat membuka disiplin ilmu baru untuk calon tenaga kependidikan dengan materi pelajaran atau mata kuliyah Teknologi Komunikasi Satelit Domestik (SKSD). Rancangan ini sebenarnya sudah lama, tetapi mengapa selalu gagal dan gagal terus. Rasanya dengan perkembangan teknologi komunikasi diluar pendidikan begitu dasyatnya, maka perencana pendidikan nasional tidak boleh menunda-nunda lagi sampai berkepanjangan, jika yang diharapkan dunia pendidikandapat menyesuaikan perkembangan zaman yang ada.

Menurut Miarso, (2004: 374), ada pedoman yang perlu diperhatikan dalam penerapan program SKSD , yang sesuai dengan kebijakan mendiknas antara lai sebagai berikut:

  1. Rencana harus dikembangkan dari analisis kebutuhan dan tujuan pembangunan pendidikan, dengan mencari jalan pemecahan melalui teknologi yang bersifat massa.
  2. Pengembangan pendidikan harus diprioritaskan pada pemerataan mutu dan kesempatan pelayanan pendidikan.
  3. Usaha peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan harus melalui dari titik pangkal strategis yaitu tenaga pelajar.
  4. Pola dan sistem yang dikembangkan harus bersifat luwes, sehingga memungkinkan keterlibatan jumlah sarana maksimal, perluasan pelayanan dan penyebaran(desentralisasi) kegiatan.
  5. Output kegiatan harus tidak sekedar berupa tambahan, melainkan sesuatu yang inovatif dalam menunjang sistem penyajian  yang efektif.[11]

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Suatu jaringan kerja televisi merupakan satu sistem dengan komponen-komponen yang cukup kompleks dan membutuhkan biaya yang besar.Besarnya biaya tersebut bukan hanya pada  saat investasi melainkan juga dalam pengoprasian, pengembangan, danperawatanya. Adapun komponen-komponen yang dimaksut ialah 1)studio pembuatan program, 2)peralatan dan perlengkapan produksi program 3)stasiun penyiaran atau transmisi 4)sistem sateelit komunikasi 5)stasiun bumi 6)pesawat menerima siaran televisi.

Kelebihan media masa televisi, antara lain dengan sifatnya yang audio visual, yang mampu menyebarluaskan informasinya secara langsung.

Kelemahan media masa televisi adalah, informasi atau pesan yang disampaikan hanya ditonton sekilas saja dan tidak bisa diulanggi, kecuali menggunakan alat perekam.

 

DA


[1] Maswan dkk, Teknologi Pendidikan Jilid 2,(Karsa Manunggal Indonesia, 2010), hlm. 74

[2] P.C.S Sutisno, pedoman praktis penulisan skenario televisi dan video, Jakarta:Grasindo, 1993. Hal 4

[3] Ibid hal 5

[4] Maswan, dkk. Loc. Cit. Hal.75

[5]  Maswan,dkk loc.cit hal 76

[6] Maswan, dkk.loc. cit hal 77

[7] Maswan, dkk. Loc. Cit. Hal 84

[8] P.C.S. Sutisno,opcit .hal. 3

[9] Drs.Darwanto,S.S, Televisi sebagai media pendidikan, jogjakarta=Pustaka pelajar, 2005. Hal 26

[10] Maswan,dkk opcit hal. 85

[11] Maswan, dkk loc.cit hal hal 82

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 18, 2011 in makalah

 

Tag:

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: